ManiakMotor - Namanya juga ‘pasar kaget’ dari awalnya sepi, berubah mendadak ramai. Seperti terjadi pada matik 200 di sirkuit Jln. H. Shidiq, Jepara, Jateng, 3 Maret 2013 lalu. Tentunya setelah dibandingkan dengan 3 event sebelumnya di Jateng (Semarang, Banjarnegara, Magelang). “Dari catatan ada 29 starter, melonjak drastis dalam tiga event yang di bawah 10 starter. Bahkan, 25 %-nya peserta lokal. Dari Jakarta dan Surabaya juga datang,”sebut Drs. Lilik Kusnandar selaku pimpinan lomba.
Iya, semingggu sebelumnya di BSD, Tangerang, kelas ini malah mencapai 52 starter. “Dengan budget masih bisa dijangkau pada kisaran 10-15 juta, harusnya kelas ini ramai lagi. Makanya, kita lagi siapin motor baru sesuai regulasi sekarang,”cerita Marlon, bos tim Marcelio Frog’z VRG. Infonya, riset motor yang bermarkas di Semarang, Jateng ini diriset Eko Chodox. Kapan mainnya bro? “Tunggu tanggalnya saja,” kata Marlon yang lagi pergi ke Thailand. Walah...
Bowo Samsonet yang kemarin ikut ngegas matik 200 di Jepara kasih pendapat. Katanya, lantaran matik sudah identik dengan mothai alias motor Thailand, jadi mekanik lokal udah minder duluan. “Pasti kalah dengan barang-barang asli yang telah diriset dari Thailand dan di Indonesia tinggal pasang. Mahal,” kata Bowo sembari senyum-senyum lantaran bos-nya di MC Racing Jakarta juga pebisnis barang matik macam itu.
Makanya untuk tim lokal dengan budget yang masih pas-pasan akan sulit maju ke persaingan papan atas. Di sisi lain matik 200 memang punya tingkat kesulitan yang tinggi untuk membuat mesinnya. Salah sedikit, mesin bisa jebol. “Awal drag bike matik, banyak yang kurang suka,”sambung Fando Kate dari tim GHR Babahe Racing Jepara. Doi lokal hero terbaik diurutan 21 dari 29 starter dengan waktu 08.737 detik.















