Senin, 01 April 2013

Drag Bike Jepara, ‘Pasar Kaget’ Matik 200 Cc



ManiakMotor - Namanya juga ‘pasar kaget’ dari awalnya sepi, berubah mendadak ramai. Seperti terjadi  pada matik 200 di sirkuit Jln. H. Shidiq, Jepara, Jateng, 3 Maret 2013 lalu. Tentunya setelah dibandingkan dengan 3 event sebelumnya di Jateng (Semarang, Banjarnegara, Magelang). “Dari catatan ada 29 starter, melonjak drastis dalam tiga event yang di bawah 10 starter. Bahkan, 25 %-nya peserta lokal. Dari Jakarta dan Surabaya juga datang,”sebut Drs. Lilik Kusnandar selaku pimpinan lomba.
Iya, semingggu sebelumnya di BSD, Tangerang, kelas ini malah mencapai 52 starter. “Dengan budget masih bisa dijangkau pada kisaran 10-15 juta, harusnya kelas ini ramai lagi. Makanya, kita lagi siapin motor baru sesuai regulasi sekarang,”cerita Marlon, bos tim Marcelio Frog’z VRG. Infonya, riset motor yang bermarkas di Semarang, Jateng ini diriset Eko Chodox. Kapan mainnya bro?  “Tunggu tanggalnya saja,” kata Marlon yang lagi pergi ke Thailand. Walah...
Bowo Samsonet yang kemarin ikut ngegas matik 200 di Jepara kasih pendapat. Katanya,  lantaran matik sudah identik dengan mothai alias motor Thailand, jadi mekanik lokal udah minder duluan. “Pasti kalah dengan barang-barang asli yang telah diriset dari Thailand dan di Indonesia tinggal pasang. Mahal,” kata Bowo sembari senyum-senyum lantaran bos-nya di MC Racing Jakarta juga pebisnis barang matik macam itu.
Makanya untuk tim lokal dengan budget yang masih pas-pasan akan sulit maju ke persaingan papan atas. Di sisi lain matik 200 memang punya tingkat kesulitan yang tinggi untuk membuat mesinnya. Salah sedikit, mesin bisa jebol. “Awal drag bike matik, banyak yang kurang suka,”sambung Fando Kate dari tim GHR Babahe Racing Jepara. Doi lokal hero terbaik diurutan 21 dari 29 starter dengan waktu 08.737 detik.
»» READMORE...

Drag Bike Pertamina Senayan 2013, Matik 200 cc Masih 7.7 Detik, Rekor 7.6 Detik


ManiakMotor – Matik Tune-Up 200 cc di dua tahun penyelenggaraan Pertamina Enduro Drag Bike (PEDB) adalah kelas favorit. Tahun ini juga akan jadi pesaing Bebek Tune-Up 200 cc dan Ninja 150 cc bodi standar. Bahkan di detik-detik terakhir ternyata starternya melampui Bebek Tune-Up 220 yang diberitakan sebelumnya yang terbanyak di event PEDB yang berlangsung di Parkir Timur Senayan, Jakarta Selatan, 23 - 24 Maret 2013.
Total pengikut di kelas ini 89 starter atau lebih banyak 3 starter dari Bebek 200 cc. Makanya penyisihannya didahulukan atau menysul penyisihan Bebek 200 Cc. Dalam sesi sisih menyisih ini, Imam Ceper yang memakai  Yamaha Mio dari tim Yong Motor Nano-Nano ART bikin catatan 7,765 detik. Itu belum mengalahkan catatan tercepat selama musim lalu yang 7,604 detik oleh Saiful Cibef. “Ini kan masih penyisihan, masih ada kesempatan besok,” jelas Ceper yang memang Ceper sekali itu, saking Cepernya dia seperti melihat langit saat bercerita dengan portal ini.
Sementara tim yang spesialisi matik masih malu-malu mencatatakan waktu di bawah Ceper. Malu dan belum mampu mungkin sama saja? “Ah, nggak begitu. Santai aja, yang penting lolos ke babak selanjutnya,” tukas Tomo, pemilik tim TSS Adnoc yang bicaranya selalu otomatis macam matik. Sama juga dengan tim Wahana Baru Motor Bandung yang ‘hanya’ mencatatkan waktu terbaik kelima lewat betotan gas dari Tokicho Kebo. Mudah-mudahan nama Kebo itu bukan yang bajak sawah, becanda bro.
Ceper berhasil tercepat karena minim kesalahan di garis start, “Posisi foot step telah diubah ke belakang dan lebih rendah, sehingga saat start kaki jokinya masih menempel di step. Juga saat motor mulai melaju joki hanya menggeser telapaknya saja tanpa menggerakan kaki sehingga motor tidak goyang. Goyang kan menghilangkan waktu,” sebut Iyong Mustofa selaku mekanik di tim tersebut.
»» READMORE...

Pertamina Enduro Drag Bike 2013, Parameter Trek Lurus, Rekor Indonesia 6.776 Detik

ManiakMotor   Bila penataan event drag bike profesional, yakin selalu ditunggu. Saat eventnya terjadi pasti merah, acara event selesai akan dikenang, lantas ditunggu lagi. Begitu terus siklusnya.  Bukan hanya menunggu sekadar ikut doang, tetapi punya persiapan spesial macam marbatak, eh, martabak. Di sana teknologi korekan terbaik dan termahal buat tim akan diturunkan. Pembalap jauh-jauh asah mental, sehingga pas lomba konsentrasinya full,  fokus. 
Helmy Sungkar. Jual kualitas event
Rio Teguh. Timnya khusus untuk PEDB
Kira-kira seperti itu Trendypromo Mandira (TPM) mengemas Pertamina Enduro Drag Bike (PEDB) 2013 jadi parameter drag bike di Indonesia. Contoh di Sirkuit Parkir Timur Senyan, Jakarta pada 23-24 Maret 2013 baru lalu, tercatat 650 starter dari berbagai daerah. Kalau tidak hujan, mungkin semua kelas rekor pecah, karena pembalap unggulan belum pol-polan di penyisihan.
 “Saya rasa semua tim dan pembalap ada peningkatan di  PEDB. Karena jauh hari, PEDB sudah menjadi agenda, semua yang terbaik pasti diturunkan tim,” jelas Wawan Kristiarto, pemilik sekaligus kiliker dari tim Abakura Ditra Jaya yang datang dari Solo, Jawa Tengah.
TPM atau PEDB yang bukan berstatus kejurnas memang yang membuka selubung tiga tahun lalu saat trek lurus mati suri. TPM datang dengan kemasan gaya baru pada olahraga bermotor  yang tadinya punya konotasi ribut melulu masalah waktu tersebut.  Dikemaslah PEDB dengan image positif ala event TPM. Dia bangun kepercayaan peserta.  Kasarnya diracuni sehingga ketagihan. Buktinya pedrag papan atas sampai bawah, nagih melulu dengan event PEDB. Kalau tidak, sakaw bro.
Tomo dari TSS Adnoc punya historis soal PEDB. Katanya, jiwa kompetisi yang serius akan muncul sendiri bila menghadapi PEDB. Katanya, karena tim-tim yang dihadapi melakukan hal yang sama.  “Mereka akan habis-habisa yang dimiliki di event PEDB,” jelas yang punya nama Utomo itu. Ya mudah-mudahan dia meyisakan untuk portal ini ketimbang dia habiskan untuk PEDB. Kan habis-habisan.
Randy. Riset terus untuk PEDB, hasilnmya timnya bikin rekor Indonesia lewat KTM250SX dijoki Eko Chodox
Angga, pemilik AHRS GM H-Ijo Top Jaya. Memang nggak ada komen dalam tulisan ini, karena keburu difoto dan angkat jempol, fotonya nongol
Tetap 12 dan 13 alias beda tipislah dengan Randy Abirawa, pemilik tim PME Abirawa GM dan Rio Teguh (Anker Sport Hariot Keyspeed IRC Lupromax GM SSR) untuk membakar rupaih di event PEDB. “Bukan semata-mata hadiah yang besar tapi lebih kepada persaingan dan pengakuan,” kata Rio dan Randy seperti saling berebut kasih pendapat. Di belakang mereka masih banyak yang ingin komentar secara perorangan dan tim, tapi maaf udah capek ngetik, coy.
Janganlah heran - ah tetap heran - rekor PEDB di Senayan baru lalu pada rontok.  Tapi rontoknya nggak kayak rambut lu, bro. Karena itu tadi, teknologi tim masih segar. Dana sponsor lewat termin pertama sudah pada cair, hehehe. Pembalap juga baru terima uang kontrak. “Kira-kira begitulah. Semangat baru,” jelas Eko Chodox yang menciptakan rekor jadi 6.776 detik dari sebelumnya 6.940 detik dengan KTM250SX 2-Tak di FFA dan masih berambisi untuk memecahkannya tahun ini.
Helmy Sungkar, selaku pimpinan TPM penyelengara Event tersebut memang yakin hasil karya eventnya. “TPM selalu menjaga kepercayaan yang telah kami mulai. Dalam posisi seperti itu tuntutan dari peserta pasti akan makin tinggi. Ini barusaha dilayani atau minimum diperbaiki kinerja penyelenggaraan event. Sebentar lagi perbaikan dengan siaran langsung tv,” kata Helmy  sembari mengingatkan seri 2 PEDB berlangsung di Tasikmalaya, 6 April 2013 dan berarti bersamaan dengan GM Drag Bike di BSD.
»» READMORE...

Senin, 18 Februari 2013

Yamaha Mio, Rajanya Drag Matik 200 cc

  


Yamaha Mio tim Surya 12 Evalube NHK ini juara 1 dan 3 kelas Matic 200 cc. Tepatnya di Kejurnas Surya 12 Dragbike Championship 2012, di Gresik, Jawa Timur (6/6) lalu.

Digeber Ardiansyah alias Ucil podium 1 dan Richo Bochel ke-3. Korekan mesinnya diracik oleh Kentar Dima. Kentar mekanik tim Anker dari Bandung.

Buat bertarung di kelas 200 cc, ubahan dilakukan di ruang bakar. Piston standar diganti pakai diameter 64 mm dari Hi-Speed. Tak hanya bermain bore up, stroke up juga dilakukan demi kejar kapasitas 200 cc dan menaikan torsi di di putaran bawah.

Untuk itu, dari stroke standar yang 57,9 mm distroke up hingga sentuh angka 62 mm. Lewat konfigurasi ini, totalnya isi silinder jadi 199 cc.

Tapi, tidak cukup sampai disitu. Besarnya penggebuk ruang bakar ikut diimbangi pemakaian klep in 33 mm dan klep ex 28 mm.  Tentunya lubang isap dan buang juga dikorek. Menyesuaikan dengan diameter payung klep yang sudah lebar.

Klep andalkan merek SPS. “Keunggulannya klep ini lebih kuat dan lebih ringan,” ujar Bacol, manajer tim Surya 12 Evalube NHK. Dengan begitu power mesin lebih maksimal di putaran bawah dan atas.

Agar power bawah makin terdongkrak, silinder head ikut dipapas 1,5 mm. "Untuk putaran bawah sengaja dibuat lebih galak. Agar saat start langsung ngacir bertenaga," ungkap Kentar.

Demi menunjang kinerja piston dan klep yang sudah besar, sektor lain yang dimodifikasi. Yaitu noken as alias kem. “Noken as pakai Kawahara tapi diubah lagi,” tambah Kentar.

Penyesuaian yang dilakukan di kem, dengan cara dilas dulu. Setelah itu, bumbungan diggerus ulang hingga durasinya sampai 285 derajat.

Sistem pengabut bahan bakar juga perlu penyesuaian. Trik yang dilakukan Kentar Dima sang mekanik dengan pakai karburator PE 28. “Saya lakukan penyesuaian lagi karbunya, menggunakan yang sudah direamer sampai 31 mm,”ujarnya. Ini sih tinggal beli suda ada yang jual.

Magnet yang dipakai juga ternyata masih standar. Kemudian terakhir, sisa gas buang juga dilepas dengan knalpot Kawahara. Mantap! (motorplus-online.com)

DATA MODIFIKASI
CDI: Rextor Pro Drag
Ban depan: IRC Eat My Dust 2,00x17
Ban belakang: IRC Eat My Dust 2,00x17

Penulis : Ismet | Teks Editor : KR15 | Foto : Candra
»» READMORE...

Senin, 28 Januari 2013

Modifikasi Mio '10 : Lady Dragster


Niluh Putu Ayu Pratiwie tak mau ketinggalan mengikuti Drag Race. Cewek dari Denpasar ini memilih Modifikasi Mio rakitan tahun 2010-nya menjadi Dragster Inovatif. Dunia Drag Race yang sangat ketat persaingannya tak membuat gentar wanita ini untuk menjadi Lady Dragster. Karena terlalu sayang dengan motornya, wanita berzodiak taurus ini memberi nama tunggangannya "Putri Cening Ayu" yang berarti putri cantik dalam bahasa Bali. 

Modifikasi Mio '10 : Lady Dragster
Desain body si Cening Ayu mengandopsi aliran Racing Style, tetapi rata-rata masih mempertahankan body work bawaan. Modifikasi Mio ini pun tetap mengadopsi genre pabrikannya, terlihat pada kedok stang milik Xeon, anjungan depan milik Jupiter MX dan anjungan belakang milik Mio Soul.
Lady Dragster yang masih tercatat aktif sebagai mahasiswi Ekonomi di Universitas Udayan Bali ini mengubah total pada sektor kaki-kaki. Dengan memakai Tromol depan dan belakang Custom dengan BIB sistem. Set jeruji dipolah trend big spoke. Tiap pilarnya didukung sepasang spoke gede yang titik pertemuan tengahnya digaet mur panjang. Uniknya, saat mur ini diputar searah jarum jam, kedua spokenya otomatis akan mengencang, mirip teknik pengencangan kabel listrik.
»» READMORE...

Modif Mio Hasil Study Thailand

Modif Yamaha Mio 2008, Hasil Studi Thailand


Hasil studi di Thailand, salah satunya yaitu pemilihan piston. Tidak perlu lagi mengandalkan bore alias piston atau seher besar. Tapi, cukup tiru piston yang banyak digunakan oleh tuner Thailand buat pacuan FFA.

Piston yang dipakai merek LHK diameter 66 mm, coba diandalkan Ismail Harjono, tunner Harmoni Monster Skutik (HMS) asal Solo, Jawa Tengah. Itu hasil belajar tahun lalu ke Thailand, sekalian balapan dengan matik drag sana.

Hasilnya tidak percuma memang. Ismail mampu menghantar Yamaha Mio yang dipacu Rico Boncel ini bertengger di podium terhormat gelaran TDR YSS Comet DID Drag Bike Championship 2011 di Semarang, Minggu lalu.

Trek lurus Sirkuit Tawang Mas, Semarang jadi saksi kehebatan Mio yang sejak penyisihan bertengger terus di 3 besar. “Waktu ke Thailand banyak ngobrol dengan mekanik sana. Coba saya terapkan di motor ini,” ungkap Ismail.

Sebelumnya, Ismail pilih bermain dengan piston 70 mm buat mengejar kapasitas besar. Piston ini memiliki tipe layaknya piston pacuan Special Engine (SE). Bagian bawah piston lebih pendek. Jadi, tidak seperti piston Honda Tiger atau Yamaha Scorpio yang tergolong panjang.

Malah aplikasi bore ini, katanya terjadi banyak perubahan. Yaitu, dari power yang diinginkan. Jika sebelumnya power teriak dan seoalah kehabisan nafas di jarak 30 meter sebelum finish, kini tidak lagi.

Teriaknya mesin, kini bisa melewati garis finish. “Ketika pakai piston 66 mm, sampai finish masih ada sisa power. Ini sebenarnya yang jadi karakter buat matik,” beber Gembor panggilan karibnya.

Pakai piston besar sebenarnya bisa saja mengakali power. Tapi, power bawah berantakan karena kelewat liar. Buat mengejar kapasitas maksimal, piston 66 mm ini dikombinasi dengan panjang stroke 86 mm. Stroke ini hasil dari kruk as bawaan dari Thailand juga. Yup! Sudah terima jadi!

Dengan penggantian setang seher yang memiliki pen kruk as lebih kecil, otomatis big end bisa digeser lebih jauh lagi. Dengan begitu, total isi silinder yang diaplikasi di Mio kelir kinclong ini, menjadi 295 cc. Menurut tunner 32 tahun ini lagi, kapasitas itu sudah dirasa cukup!

Ke Thailand lagi? (motorplus.otomotifnet.com) 

Lebih Besar Exhaust

Menemani isi silinder yang membengkak, klep andalkan 34 mm (in) dan 30 mm (ex). Klep sendiri mengambil dari milik mobil. Lalu diameter dibuat ulang sesuai kebutuhan.

Guna mengatur naik kapan buka-tutup klep, noken as dari mobil Honda Estilo diaplikasi. Durasi dibuat ulang menjadi 275º (in) dan 280º (ex). Kalau dihitung diameter tiap bumbungan, 18,3 mm (in) dan 18,4 mm (ex).

Tapi anehnya, kok durasi dibuat lebih besar exhaust ya? “Memang seharusnya lebih besar ini. Tapi ini saya lakukan untuk mengejar kompresi rendah. Jadi, power bawahnya tidak terlalu galak,” jelas Gembor sembari bilang sudah terapkan kompresi 15,2 : 1. Perbandingan rasio 18/39 mata dipakai agar hantaran power sesuai keinginan. Yup!

DATA MODIFIKASI
Ban depan : IRC 45/90-17
Ban belakang : Eat My Dust 60/80-17
Pelek : TDR
Sok belakang : YSS
CDI : Yamaha Fino

»» READMORE...

Modifikasi Motor Yamaha Mio Drag Solo


Modifikasi Motor Yamaha Mio Drag Solo - Siapa yang menyangka jika motor matic Yamaha Mio yang dulunya diproduksi untuk para wanita akan tetapi justru sekarang di dominasi pleh para pria, dan enggak tanggung-tanggung, motor ini di gunakan juga untuk balapan Drag Bike.
Mau tau hasil nya bagaimana jika motor Yamaha Mio ini di modifikasi menjadi motor Drag,.?? Maka berikut ini ada salah satu motor Yamaha Mio dari Solo yang di modifikasi untuk keperluan Drag Bike. Cekibrot bro ..!
Modif Yamaha Mio, 2009 (Solo)

Yamaha Mio, Kencang Dengan Racikan Lokal

modifikasi yamaha mio drag
Yamaha Mio 2009 milik tim Pells Racing Solo ini mampu mengantarkan Tony Cupang dan Jhon Pells naik podium kelas Matic 200 cc Rangka Standar. Terjadi minggu lalu di TDR YSS Comet Drag Bike, Jogja. Meskipun hanya menduduki posisi 3 dan 4, namun besutan ini murni hasil racikan anak negeri.
Peraciknya Arif Sigit Wibowo, mekanik sekaligus pemilik tim Pells Racing yang berasal dari Solo, Jawa Tengah. “Saya lebih suka bikin mesin sendiri, sampai kelas Supermatik 300 cc juga digarap sendiri. Bukan bawa mesin utuh dari Thailand,” ujar Pells, sapaan akrabnya.
Jadi, makin penasaran faktor apa saja yang bikin motor ini mampu melesat kencang. Pastinya pake resep dong? “Untuk turun di kelas 200 cc, mengandalkan piston Kawahara diameter 66 mm tipe forging,” ujar mekanik berambut ikal ini.
modifikasi yamaha mio drag
Pilihan pakai piston forging ada beberapa alasan, lho. Salah satunya lantaran bobot piston tergolong ringan. Kalau di bandingkan dengan non forging macam piston Tiger jauh lebih enteng. Cocok buat besutan drag bike yang butuh bobot ringan. “Piston forging bikin putaran mesin enteng dan cepat naiknya,” lanjut Pells lagi.
Lantaran piston 66 mm, dirasa sudah mencukupi kapasitasnya untuk turun di kelas 200 cc. Jadinya enggak perlu lagi pakai jurus naik stroke. Pakai stroke standar bikin mesin jadi lebih awet. Kalau dihitung pakai rumus volume total mesin Mio ini jadi 197,98 cc.
Besarnya piston diimbangi pemasangan klep gambot hasil custom. Buat klep in, diameter payung klep dibikin jadi 34 mm. Sedang klep ex 28,5 mm. “Klep copotan dari Toyota Vios punya ukuran yang cukup besar dan bahannya lebih kuat,” katanya.
Selanjutnya, untuk mengejar kompresi yang diinginkan, kepala silinder ikut dipapas hingga 0,6 mm. Kubah di silinder head, mengikuti diameter piston. Namun rasio kompresi tidak diukur.
Tak tertinggal, asupan bahan bakar juga dipikirkan. Pells mengandalkan karburator Keihin PE 28 yang lubang venturinya sudah direamer jadi 30 mm. Main-jet dipatok 130 dan pilot-jet 45 cocok untuk bermain di trek pinggir pantai.
Oh ya buat CVT, juga kasih bocoran nih. Roller yang dipakai mengandalkan Kawahara dengan bobot rata 8 gram. Pulley juga ikut kena sentuhan dengan mengubah sudutnya dari 13,5 derajat menjadi 14 derajat. “Dibikin lebih meruncing biar tenaga putaran bawah lebih cepat di gapai,” tutup Pells. Blarrr…! (motorplus-online.com)
DATA MODIFIKASI
Ban belakang: Eat My-Dust 60/80-17
Ban depan: Comet 215-17
Cakram depan: Yamaha Mio
Rocker arm: Honda Blade
Knalpot: Kawahara
Sumber: motorplus.otomotifnet.com
»» READMORE...